Kecerdasan Emosi

DALAM perkembangan ilmu psikologi, pernah ada zamannya orang percaya bahwa inteligensi atau kecerdasan atau yang lebih populer dengan sebutan IQ (yang kepanjangannya adalah intelligence quotient atau ukuran inteligensi) adalah yang terpenting dalam menentukan keberhasilan seseorang.

Seakan-akan kalau orang ber-IQ di atas 120 pasti bisa masuk universitas, dapat job yang bagus (jadi PNS) dan sukses seperti BJ Habibie. Terlebih kalau kepintarannya di bidang matematika dan fisika. Lulusan SMA IPA bisa diterima di semua jurusan di universitas,yang tidak mungkin terjadi pada anak sosial-budaya. Karena itu sampai sekarang banyak orang tua yang ngotot anaknya di SMA harus masuk jurusan IPA (dulu: Bagian B),bukan IPS (dulu: C) atau Bahasa (A). Celakanya, sistem pendidikan di Indonesia, sampai sekarang masih mengikuti sistem warisan Belanda itu,walaupun selama ini sudah berkali- kali ganti versi.

Padahal, sistem seperti itu sekarang sudah tidak terpakai lagi di hampir seluruh dunia. Teori yang melandasinya sudah usang. Pandangan bahwa kecerdasan (kognitif) saja tidak cukup untuk menentukan keberhasilan seseorang sebenarnya sudah diawali sejak 1920 oleh EL Thorndike (social intelligence), bahkanolehDavid Wechslersendiri (penemu alat tes IQ), yang pada 1940 menyatakan bahwa untuk menafsirkan hasil tes WB (wechsler bellevue) perlu diperhatikan pengaruh faktor-faktor noninteligensi.Pada 1983 muncul teori multiple intelligence dari Howard Gardner yang menyatakan ada delapan jenis inteligensi, termasuk kecerdasan intrapersonaldaninterpersonal. Hari ini yang banyak dianut adalahteoriDanielGolemententang kecerdasan emosi (emotionalintelligenceatau disingkat EI).

Teori inilah yang bisa menerangkan mengapa bukan hanya BJ Habibie dan Einstein yang bisa meraih prestasi puncak, melainkan juga Soeharto (yang putus sekolah karena jadi tentara), Bob Sadino (juga putus sekolah karena berdagang telur), WS Rendra (yang lebih suka berpuisi dari pada berhitung), dan Sarlito (yang SMA-nya hanya Bagian C). *** Ada empat elemen, menurut Goleman, yang harus dipenuhi oleh seseorang agar bisa disebut mempunyai EI yang tinggi, yaitu: self awareness, self-management, social awareness, dan relationship management. Self awarreness (pemahaman diri), adalah kemampuan untuk mengidentifikasi emosinya sendiri dan bisa memahaminya dengan kepala dingin apa dampak dari emosinya itu pada diri sendiri dan orang lain dan selanjutnya menjadikan pemahamannya itu sebagai pedoman untuk memutuskan perilaku selanjutnya.

Self management (manajemen diri sendiri), adalah kemampuan untuk mengendalikan emosi dan menyesuaikannya dengan situasi-kondisi yang selalu berubah-ubah. Social awareness (pemahaman tentang orang lain), adalah kemampuan untuk merasakan, mengerti dan bereaksi terhadap emosi orang lain,dan sekaligus memahami jejaring sosial yang ada. Relationship management (manajemen hubungan dengan orang lain),yaitu kemampuan untuk menginspirasi, memengaruhi,dan mendorong orang lain untuk berkembang sementara juga mampu mengelola konflik (managing conflict) dengan baik. Orang yang berkecerdasan emosi tinggi biasanya sukses karena bisa memanfaatkan emosinya (yang negatif atau positif) untuk kepentingannya sendiri maupun orang lain.

Guru TK, misalnya, tidak marah walaupun muridnya pup di celana, pedagang harus tetap tersenyum walaupun pelanggannya bawel, dan karyawan mampu mengkritik bosnya tapi bosnya malah tertawa. Itulah contoh-contoh kecerdasan emosi atau EI yang tinggi. Sebaliknya sekarang, coba ingat-ingat, apakah Anda pernah mencoba melucu tetapi tidak ada yang tertawa? Atau pernah ditegur tetangga karena membunyikan monitor televisi terlalu keras, padahal anak tetangga itu sedang sakit? Atau ketika Anda mahasiswa Anda tidak berani menghadap dosen, karena belum ada kemajuan dengan tugas Anda, dan tahu-tahu Anda dinyatakan tidak lulus?

Itu semua adalah akibat EI Anda rendah. Tetapi yang paling parah adalah kalau orang jadi agresif (melukai,atau menyakiti orang lain) ketika sedang dalam emosi yang negatif. Psikolog Heriyanti, dalam penelitiannya tentang KDRT (2011),menemukan bahwa suami-suami yang melakukan kekerasan pada istrinya pada umumnya mengalami irasionalitas peran gender (misalnya percaya bahwa suami harus maskulin, padahal sebetulnya tidak), dan depresi serta yang paling menentukan adalah penyandang alexithymia, yaitu ketidakmampuan untuk mengekspresikan perasaan (emosi) dalam kata-kata.Tanpa alexithymia, suami yang paling irasional dan paling depresi pun tidak akan melakukan KDRT.

Dengan perkataan lain,suami yang tidak tahu harus ngomong apa ketika diomelin istrinya terus-terusan, bisatiba-tiba langsung memukul istrinya. *** Hal yang mengkhawatirkan, kok naga-naganya banyak orang Indonesia kena alexithymia. Minimal EI-nya rendah. Orang sudah lama kesal, frustrasi, dan depresi, tetapi tidak tahu harus omong apa dan bagaimana. Tahu-tahu keroyok, sweeping, serbu, bentrok, bunuh. Tidak peduli itu urusan Ahmadiyah atau urusan PSSI, atau urusan koalisi, sama saja. Baku pukul dan baku tohok. Minimal secara lisan terjadi debat kusir yang pokoknya saling menjatuhkan, melecehkan, atau menyakiti hati orang lain.

Banyak orang yang mengatakan bahwa penyebab utama dari agresivitas massal yang makin sering terjadi beberapa tahun terakhir ini adalah karena pelajar di sekolah-sekolah tidak diajari budi pekerti lagi, atau kurang pendidikan agama (kok tidak ada yang menyebut Pancasila,ya?).Tetapi itu tidak benar. Generasi saya dan sebelum saya adalah generasi yang masih mendapat pendidikan budi pekerti ketika di SD dan SMP (peninggalan zaman Belanda), buktinya terjadi G-30-S dengan korban belasan jenderal terbunuh dan ribuan anggota masyarakat dibantai. Pelaku-pelaku kerusuhan sekarang (terorisme, anarkisme, konflik etnik dll) adalah generasi P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila), sedangkan remaja pascareformasi adalah anakanak hasil pendidikan agama yang super ketat.Keluarannya sama saja: anarki.

Polri menjawab police hazzard jenis baru ini (anarki) dengan membentuk Densus AA (anti-anarki). Analog dengan Densus88yangsudahlebihdulu ada dan tugasnya khusus represif terhadap jaringan pelaku pengeboman. Bagus, mudahmudahan sukses. Tetapi anarki tidak cukup diatasi dengan sebuah detasemen khusus. Untuk jangka panjang perlu upaya-upaya preventif, yaitu melalui pendidikan yang oleh EL Thorndike tersebut di awal tulisan ini disebut social intelligence atau istilah sekarang social skill.Intinya adalah mengajari anakanak untuk mengenal dan mengelola emosinya sendiri dan orang lain untuk mencapai empat kriteria EI yang tinggi itu. Caranya bukan dengan ceramah kelas, tapi praktik langsung dalam kegiatan ekstrakuriluler seperti kesenian,olahraga, atau organisasi.

Dalam kegiatan-kegiatan itulah anak belajar mengantisipasi emosi diri sendiri dan orang lain dan mengantisipasi kejadian yang akan datang (termasuk konflik), sehingga semua orang bisa baku damai, tanpa perlu lagi ada kekerasan-kekerasan. 

sumber : http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/385548/

Posted in:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *